Aku Berhenti Menanti, Tapi Tidak untuk Mengagumi. Hari ini purnama. Dan itu tan…

Aku Berhenti Menanti, Tapi Tidak untuk Mengagumi.

Hari ini purnama.
Dan itu tandanya sudah dua bulan aku libur dalam meramu kata. Beruntunglah malam ranum ini aku kembali mengambil pena. Hampir tumpah semuanya.

Percakapan tadi siang tidak menyenangkan, juga tadi malam. Matamu masih kecokelatan. Tapi senyum di pipi itu sudah seperti ditelan siluman. Aku hanya berbicara miris melalui tatapan.

Itu sama sekali bukan hal yang membuatku bersorai. Mengingatnya lagi, hanya akan membuat kadar benciku terhadap angin yang meniup rambutmu sore tadi tambah meninggi. Tapi aku tidak berniat melupakannya sama sekali ketika kita sudah benar-benar tidak akan bertemu lagi. Aku sungguhan saat menulis ini.

Semua sikapmu membuatku berpikir kembali berkali-kali. Aku dibuat luar biasa dilema untuk tetap berdiri di garis hitam atau justru putih.
Aku memang serius waktu berkata bahwa padamu aku menyimpan rasa dan tak pernah peduli perihal balasan yang ‘kan kuterima. Bahkan ingin rasanya kuumumkan pada dunia bahwa remaja yang satu ini sedang asyik-asyiknya dicandu oleh asmara.

Sayangnya, purnama kini, aku paham sudah dilempar sejak bahkan sebelum aku sadar kalau debaranku padamu ini berbeda. Menandingi dungu seekor lembu, aku memang begitu. “Untuk apa bertahan suka pada orang yang bahkan sama sekali tidak pernah mengajak kita berbincang?” kata guruku suatu hari kepada anaknya yang kemudian anaknya berkata padaku.

Mulutku terkunci dan jejak-jejak kaki mulai berjalan mendekati. Kamu mulai beranjak pergi saat kubilang tetap di sini. Ya sudah, untuk apa aku masih menanti?

Terima kasih atas semua yang telah terjadi dan beberapa puing kenangan yang kamu beri. Mungkin bagimu tak seberapa, tapi buatku itu luar biasa.

READ more  Aku tahu, aku pun menyadari, posisiku dengannya bagaikan mata yang hanya mampu m...

by: Nabilah Azhar,
Semoga dapat diingat lekat-lekat. Semoga tidak berat.
#sajakrasacokelat

Source

Tinggalkan komentar