Aku hidup tidak dalam fase roman yang begitu-begitu saja. Selalu ada cerita dari…

Aku hidup tidak dalam fase roman yang begitu-begitu saja. Selalu ada cerita dari tiap-tiap jiwa yang aku damba hatinya.

Aku pernah jatuh cinta dalam diam, hanya memandangi sosoknya dari kejauhan. Salah tingkah bila hendak berpapasan, serasa mau pingsan ketika ia melempar senyuman.
Lalu pada akhirnya merasa pedih sendirian ketika lihat ia dengan lain orang, sebab aku tidak pernah berani untuk mengungkapkan.

Aku juga pernah jatuh cinta secara terang-terangan, memangkas habis rasa malu sampai jadi tidak tahu malu. Dari jatuh cinta diam-diam jadi jatuh cinta tidak bisa diam. Memandangi wajahnya tanpa ada rasa jemu, lalu berhenti sebab tersipu dan tertipu pada cinta yang semu.

Aku pula pernah jatuh cinta sewajar dan secukupnya saja. Tidak sampai setinggi langit atau pula sedalam samudera, apalagi sampai sebesar semesta. Juga tidak sampai sehangat fajar atau pula seindah senja, apalagi seelok dan seberwarna pelangi di rahang cakrawala.
Aku bahkan pernah terjebak dalam hubungan tanpa arti. Penuh kebosanan dan tidak teratensi. Lantaran aku keliru perihal definisi jatuh hati dan filantropi.

Kisah-kisah romansa milikku selalu punya tempatnya dalam dada, berupa potret-potret yang tergantung dalam pigura di sepanjang dinding ruang bahagia dan nelangsa.

Kisah-kisah romansa punyaku selalu ada waktunya buat jadi nostalgia. Juga masih ada ruang untuk kisah-kisah lain yang masih jadi rahasia. Masih akan ada, sampai kisah romansa milikku ditutup dengan aku yang habis dimakan usia.

by: sugarcane
#poetry #photography #phosphenous

Source

READ more  Pada senyummu aku berlabuh. Rasanya aku ingin selalu menikmati seutas garis inda...

Tinggalkan komentar