kiranya nanti sampai kita pada titik jemu, kala tiba saatnya kau benar-benar mel…

kiranya nanti sampai kita pada titik jemu, kala tiba saatnya kau benar-benar melarangku sekadar bilang rindu, tolong pahami sebelum lepas landasmu:

i. aku mencintaimu─bahkan sebelum rayuan pertamamu.

dan tak akan sampai di situ karena bayangmu akan tetap menghantu, barangkali malam ini di sela pendar lampu bulevar titik nol tempat aku tergugu, bernala-nala jika nyatanya bukan aku tulang rusukmu.

kau dan memori-memori malam minggu akan terus merundungku bersama aroma lumpia rebung dalam hiruk pikuk jalan Solo pada sore-sore kelabu. pula boleh jadi terbawa angin malam kotabaru yang menjadi alasan aku memelukmu di atas sepeda motor malam itu.

ii. dan perihal perselisihan-perselisihan antara kau dan aku, perihal jalan yang nyatanya membawa kita ke ujung tanduk: tolong, jangan jadikan ini nila yang setitik.
iii. kenang aku sebagai sosok yang sempat menjadi tempat berteduhmu kala hujan terus menerus menerpamu; bukan sebagai guruh yang bergemuruh menyertainya, bukan pula banjir yang mengikutinya.

biar waktu yang menjadi tanda mata;
jangan pernah kau lupa segala yang pernah ia cipta untuk kita.

sebab tak mudah membayangkan suatu hari yang menjadi pamungkas, di mana aku yang tersedu lirih mengucap, “pergilah, aku menyayangimu.” hari itu akan datang. membawa kabar bahwasanya pada segala yang kita lalui bersama, akan terselip kata “pernah” di dalamnya.

iv. dan kiranya nanti sia-sia segala temu, tolong pahami:
aku mencintaimu.

by: sal
#poetry #photography #phosphenous

Source

READ more  Kelak akan ada harinya di mana kamu menyadari, bahwa yang memang tidak dimaksudk...

Tinggalkan komentar