Terluka mana lagi yang harus kurasakan? Aku layaknya kekasih namun tak dianggap…

Terluka mana lagi yang harus kurasakan?
Aku layaknya kekasih namun tak dianggap. Kehadiranku tak berarti apa-apa. Tak lebih sekadar persinggahan, dicintai dengan adanya jaminan—sekiranya kau dapat pulih dan melupakannya.
Aku memupuk rasa yang tak lekang pada masa sedang kau dengan sungguh mengubur segala asa.
Kau terus meyakinkan saat bersamaku adalah cinta tetapi nyatanya hanyalah dusta.
Kukira, padamu aku telah dengan tepat menjatuhkan hati.
Kukira, segalanya akan berjalan sempurna sebelum aku menyadari ternyata perasaan itu berbalik kembali—sendiri.

Hatiku terasa nyeri dengan sangat nyata.
Sekaligus lega, sebab tak lagi bertanya-tanya. Meski bukan seperti ini jawaban yang aku inginkan sesungguhnya.

Aku masih belajar merelakan posisi yang sudah terganti. Sosokku yang bukan siapa-siapa lagi.

Aku disakiti berkali-kali, kemudian berusaha pulih sendiri.

Begitu terus siklus yang enggan putus. Dihajar ekspektasi berlebih, digantungkan sikapmu yang silih berganti.

Barangkali ini titik rendahku, cara terbaik bertemu jenuh akibat tidak dihargai melulu.

Cinta kita sepihak.
Aku berpihak padamu, namun kau berpihak padanya.
Percuma saja segala daya dan upaya telah ku usahakan, hatimu tetap pada sosok lalu. Bahagiamu tetap bukan padaku.
by: 9996, SatuHuruf, calumiaa
#poetry #photography #phosphenous

Source

READ more  Dan pagi itu sudah berbeda Aku melihat kembali dirinya—menatap jauh sorot matan...

Tinggalkan komentar